in Uncategorized

Data dan Solusi Ketimpangan di Sepak Bola

Reading Time: 5 minutes

Ada yang tersempil dalam pertandingan Manchester City lawan Arsenal. Selain jumlah gol yang banyak lalu permainan Arsenal yang amat tak berkembang, ada yang menarik dengan data statistik berupa win probability. Barangkali sudah sejak pekan pertama dipertontonkan, tapi jujur saya baru tahu sewaktu laga yang berakhir menyesakkan bagi Mikel Arteta.

Pada suatu menit City menorehkan probabilitas kemenangan 94% dan Arsenal yang hanya 1% belaka. Tentunya ini tiada hubungan dengan Arteta yang menaruh hormat sama Pep yang sempat jadi gurunya. Ini semata karena data.

Otoritas pengelola liga, pada musim ini bekerja sama dengan Oracle Cloud guna memunculkan data statistik selama pertandingan berlangsung. Win probability adalah satu di antara fitur match insight yang diperkenalkan premier league. Selain itu masih ada attacking threat, juga average position.

Dari sebuah tweet akun @Box2BoxBola, disebutkan bahwa win probability dihitung berdasarkan data yang dihimpun dalam 4 tahun terakhir, dimana melibatkan mulai dari laga kandangtandang, skor saat ini, penalti yang dihadiahkan pada tiap tim, hingga pengaruh masing-masing pemain yang ada di lapangan. Selain itu waktu yang masih tersisa tetnunya juga turut dipertimbangkan berikut dengan jumlah pemain masing-masing tim saat itu juga.

Kabarnya tim analis dari Oracle akan telah membuat model yang akan menyimulasi sisa pertandingan sebanyak 100.000 kali. Setelahnya akan dihasilkan presentase kemenangan tiap tiam yang sedang bertanding.

Bak gayung bersambut, kerja sama premier league dengan Oracle ini adalah bukti yang kesekian kalinya bahwa di sepak bola modern data memainkan telah dilirik dan memiliki arti penting.

Klub-klub modern bahkan sudah menjadi perusahaan modern sebagaimana perusahaan-perusahaan lain yang bergerak di bidang lain. Suatu tim tidak hanya terlalu sentralistik dengan trio elemen: pemain, pelatih dan pemilik. Klub modern kini telah memiliki tim-tim khusus berkenaan dengan perkembangan permainan dan bisnis tim.

Bayangkan saja, staf pelatih saja punya spesialisasi masing-masing. Sangat jarang ditemui orang serupa Opa Fergie yang amat lihai sebagai pelatih dan manager. Kini sejumlah telah memiliki direktur sepakbola yang memang memiliki peran menjembatani kepentingan bisnis dengan teknis permainan tim. Selain itu, kini banyak klub yang telah memiliki tim anlisis lebih khusus lagi data scientis.

Berangkat Dari Moneyball

Dahulu bahkan hingga kini penggunaan data dalam olahraga barangkali masih akan diragukan. Apalagi untuk olahraga yang memang dominan menggunakan fisik, seperti baseball, basket atau juga sepakbola.

Kenyataan disadari atau tidak pada dasarnya merupakan masalah, terlebih lagi di era olahraga yang telah bertransformasi menjadi industri. Iklim industri jelas membuat ketimpangan di dalam suatu kompetisi olah raga apapun. Hanya tim dengan uang yang berlimpah, yang akan mampu bersaing, apalagi menjadi juara.

Dalam sepakbola kita tahu sendiri, bagaimana transformasi City hingga PSG yang karena uang menjadikan tim tersebut amat dominan. Uang bagaimanapun akan sangat berpengaruh, lantaran dengan uang tim akan dapat membeli pemain-pemain berkualitas.

Ketimpangan terjadi sebab tim kecil akan dengan mudahnya ditinggal bintangnya. Di satu sisi pemain butuh merasakan gelar, di sisi lain tim kecil amat membutuhkan dana guna mengoperasikan tim semusim penuh. Karenanya wajar belaka juara suatu kompetisi pasti akan berkutat di tim itu-itu saja, kecuali memang ada keajaiban.

Permasalahan ini lah yang dialami Billy Beane, pada tahun 2000-an ketika ia menjadi manager umum Oakland Athletic, salah satu kontestan liga baseball Amerika Serikat. Pergantian musim 2001 ke 2002, Johnny Damon, Jason Giambi, dan Jason Isringhausen, yang notabene bintang Oakland, memutuskan hengkang. Agar dapat terus bersaing di kompetisi musim berikutnya Beane harus mencari pengganti, namun sayang, tim tidak punya cukup anggaran untuk membeli minimal pemain-pemain sekelas mereka.

Beruntung Beane bertemu dengan Peter Brand, pemuda lulusan jurusan ekonomi Yale. Peter Brand yang seorang akademisi memiliki sejumlah ide-ide segar berkenaan dengan penilaian permainan pemain. Meninggalkan metode lawas, scouting yang berbasis intuisi, Brand mengenalkan sabermetrics.

Dengan metode Brand, Beane pun akhirnya menemukan sejumlah pemain yang dirasa bakal memenuhi kebutuhan tim sebagaimana yang dihasilkan dengan sabermetrics. Tentu pemain-pemain ini murah dan jauh dari incaran tim-tim pesaing. Keputusan Beane yang dalam hal ini banyak dikecam oleh petinggi tim.

Bagi petinggi tim, Beane disebut-sebut sedang dalam upaya menghancurkan Oakland Athletic. Tidak hanya itu, metode Beane dan asistennya tidak disepakati oleh pelatih Oakland Athletic, Howe. Howe jelas tak begitu yakin dengan anak asuhnya.

Kompetisi dimulai dan pil pahit harus ditelan Beane lantaran Oakland Athletic tak bermain sebagaimana yang ia ekspektasikan. Tekanan dalam pundak Beane semakin menjadi-jadi. Namun Beane selalu berupaya meyakinkan pemilik tim, Stephen Schott. Beane pun masih amat berharap Brand dan metodenya akan berhasil. Adapun Brand menyebut bahwa ukuran sampel datanya masih belum cukup, sehingga akurasi metode ia pakai tak berfungsi dengan optimal.

Momentum datang selepas Hatterberg menggantikan Carlos Pena sebagai baseman. Tim berangsur membaik, bahkan dalam selang dua bulang Oakland Athletic berhasil memenangi pertanding secara beruntun. Oakland Athletic bahkan berhasil memenangi liga region barat, meskipun akhirnya di seri divisi liga amerika serikat.

Kisah Billy Beane ini diangkat dalam film MoneyBall pada tahun 2011. Film ini merupakan hasil adaptasi dari buku dengan judul sama yang ditulis Michael Lewis tahun 2003.

Bukan omong kosong, banyak tim baseball lain yang kemudian menerapkan metode rekrutmen dengan menggunakan data. Red Sox yang sempat berupaya merekrut Beane dan iming-iming gaji tinggi, akhirnya menggunakan sabermetrics juga meski gagal merekrut Beane. Dan, benar saja mereka menjadi jawara tak lama setelah benar-benar menerapkan metode itu.

Data Dalam Sepak Bola

Bagaimanapun orang-orang mulai banyak mengembangkan metode yang digunakan Peter Brand dalam menilai pemain. Kita sekarang tahu bagaimana variabel yang ada untuk menilai pemain juga tim sudah sangat berjubel. Kita dapat media online, semacam whoscored.com, squawka atau juga tranfermrkt, yang sekarang menjadi salah satu acuan analisis pengamat sepak bola.

Berbeda dengan baseball, masuknya data sebagai salah satu alat analisis pemain juga tim bola cenderung alot. Sepak bola dianggap mustahil untuk dikuantifikasi. Sampai sekarang bahkan masih banyak yang belum begitu mempercayainya.

Opa Sam Allardyce, contohnya. Ia adalah salah satu orang yang sekali waktu mempercayai data untuk sepak bola. Baginya permainan sepak bola tidak dapat diprediksi. “Terlalu spekulatif untuk membuat keputusan berdasarkan statistik, ” kata Opa Sam. “Kita tidak sedang bicara tentang baseball atau juga american football.”

Tapi barangkali Opa Sam belum lah mengikuti Bentford, klub yang di awal musim ini mengejutkan Arteta dan timnya. Sebagai pemilik Bentford, Benham, mengingatkan kita pada Billy Beane di Moneyball. Benham menggunakan data sebagai basis keputusan tim. Ia merekrut analis data untuk meneliti banyak pemain di dunia.

Di awal kepemimpinannya Benham banyak berselisih paham dengan suporter, bahkan juga staf kepelatihan tim pada waktu itu. Demi mumuluskan idenya, Benham bahkan tak segan memecat Mark Warburton walaupun jelas Warburton berhasil mengantarkan Brendford lolos divisi championship semusim lalu.

Selain itu Benham akhirnya memilih menutup akademi yang dimiliki lantaran memang sebagai tim kecil tidak akan menguntungkan bagi tim. Benham memilih untuk percaya pada tim analisnya guna merekrut pemain-pemain yang cocok dengan tim, yang tentunya juga berpotensi menghasilkan keuntungan bagi tim.

Hasil kerja tim analis lah yang kemudian menemukan bakat Neal Maupay, Said Benrahma dan Olie Watkins. Siapa tak kenal Maupay yang terkenal dengan selebrasi ala menangis itu. Kemudian Said Benrahma yang bersama Michael Antonio dan Lingard bahu membahu membantu West Ham lolos liga europa. Atau juga Olie Watkins yang moncer di Aston Villa. Ketiganya adalah transfer yang mengundang pundi-pundi uang untuk untuk Benford.

Tak hanya itu, Liverpool dengan William Spearman adalah contoh lain betapa data berpengaruh dalam pembuatan strategi permainan hingga bisnis dalam tim. Jurgeen Klopp mengaku mendapatkan masukkan dari tim analisis sebelum memutuskan taktik apa yang hendak ia gunakan. Klopp menggunakan data sebagai acuan selain dengan kepiawaiannya dalam mengolah taktik. Klopp bahkan mengakui bahwa kenapa ia berada di liverpool (dan masih) adalah karena keberadaan tim analisis.

Tak hanya dalam urusan strategi, Liverpool mengakomodir data untuk proses rekrutmen. Sejauh ini sukses terbesar adalah ketika merekrut Coutinho, yang jelas menambah performa Liverpool pasca ditinggal Suarez. Coutinho direkrut dari Inter hanya $16 juta dan ia dijual hampir 10 kali lipat dari harga belinya. Untung memang, karena Liverpool mendapat dua keping puzzle bernama Van Dijk dan Beckker.

Bagaimanapun data telah mentransformasi banyak sisi dari sepak bola modern. Seiring dengan semakin berkembangnya teknologi data pun menjadi semakin banyak dan variatif. Di satu sisi mungkin semakin kompleks tapi di sisi lain insight yang dihasilkan juga akan lebih mendalam.

Kini tim tak lagi menganggap Piala Dunia, Piala Eropa, atau piala-piala jeda musim sebagai ajang pameran mencari pemain baru. Kita tahu dari Piala Eropa kemarin siapa saja yang tampil menawan, tapi melihat geliat transfer agaknya tak begitu banyak melihat performa pemain di kompetisi itu.

Referensi

sportperformanceanalyisi.com

theguardian.com

https://www.tribunnewswiki.com/2020/02/08/film-moneyball-2011

  •  
  •  
  •  
  •  
  •